Minggu, 27 Maret 2011

PERENCANAANLABA DENGAN METODE BREAK EVEN POINT PADA PT XYZ

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Kamaruddin. 2007. Akuntansi Manajemen. Jakarta: PT: Raja Grafindo Persada.

Bastian dan Nurlela. 2007. Akuntansi Biaya: Teori dan Aplikasi. Graha Ilmu:Yogyakarta.

Erni. 2005.”Analisis Biaya Volume Laba Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada
PT. Bumi Sarana Beton di Makassar”. Tugas Akhir. Makassar:
Jurusan Akuntansi

Halim, Abdul. 2002. Akuntansi Biaya. Yogyakarta: BPFE.

Mulyadi. 2000. Akuntansi Biaya. Edisi Keenam. Penerbit Universitas Gajah Mada:Yogyakarta.

Simamora, Henry. 2002. Akuntansi Manajemen. Edisi Dua. UPP AMP YKPN:
Jakarta.

Sutrisno. 2001. Manajemen Keuangan: Teori, Konsep dan Aplikasi. Ekonesia: Yogyakarta.

Supriyono. 2000. Akuntansi Biaya: Perencanaan dan Pengendalian Biaya serta Pembuatan Keputusan. Edisi Kedua. BPFE;Yogyakarta.


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Semakin pesatnya persaingan dalam dunia usaha saat ini menuntut manajemen perusahaan semakin profesional agar dapat mengolah usahanya dengan baik demi kelangsungan hidup perusahaan yang bersangkutan.Pihak manajemen dalam menjalankan kegiatan operasionalnya,harus berupaya memperoleh dan mengalokasikan sumber dayanya secara efektif dan efisien agar dapat mencapai tujuan perusahaan pada umumnya yaitu memperoleh laba.
Perusahaan dapat menjaga tingkat profitabilitasnya apabila semua aktivitas yang ada dalam perusahaan tersebut dilaksanakan secara terus menerus disertai dengan langkah dan strategi yang terencana, terkoordinasi, dan terkendali.Laba merupakan ukuran yang seringkali dipakai dalam menilai keberhasilan manajemen suatu perusahaan.Laba tersebut sangat erat hubungannya dengan harga jual, biaya penjualan, dan volume penjualan.
Harga jual, biaya penjualan, dan volume penjualan saling berkaitan satu sama lain, karena biaya menentukan harga jual untuk mencapai tingkat laba yang diinginkan dan harga jual mempengaruhi volume penjualan. Oleh karena itu, dalam perencanaan, hubungan antar biaya penjualan dan laba memegang peranan yang sangat penting untuk merumuskan kebijaksanaan perusahaan dimasa yang akan datang.
Hubungan antar biaya, volume dan laba merupakan teknik dalam menghitung dampak perubahan harga jual, volume penjualan dan biaya, untuk membantu pihak perusahaan merencanakan laba.Salah satu metode yang dapat digunakan perusahaan dalam perencanaan laba adalah metode break even point atau metode titik impas.
Break Even Point bertujuan untuk mengetahui jumlah unit penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak mengalami kerugian maupun memperoleh keuntungansebagai bagian dari analisis Cost Volume Profitmemfokuskan pada berbagai faktor yang mempengaruhi komponen laba. Dengan mengetahui tingkat BEP, maka perusahaan akan berusaha meningkatkan penjualan di atas BEP untuk memperoleh laba dan menghindari penjualan di bawah BEP agar tidak menderita kerugian.
PT XYZ adalah perusahaan dagang yang bergerak dalam bidang industriotomotif,dimana setiap bulannya volume aktivitas penjualan perusahaan berubah-ubah sesuai dengan permintaan konsumen.Tingkat aktivitas penjualanperusahaan yang selalu saja berubah-ubah menyebabkan kecenderungan laba yang diperolehberbeda pula.Penentuan break even pointakanmembantu perusahaan dalam menentukan tingkat aktivitas minimum perusahaan atau merencanakan laba. Hal ini akan memudahkan pihak manajemen dalam menentukan laba pada masa akan datang.
Bertitik tolak dari uraian di atas, penulis tertarik untuk menyusun tugas akhir dengan judul “Perencanaan Laba dengan MetodeBreak Even Pointpada PT XYZ”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan masalah yaitu perusahaan belum dapat menentukan tingkat berapa terjadibreak even point agar perusahaan tidak mengalami kerugian.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat Break Even Point atau titik impas pada PT XYZ.

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang dapat diperoleh dari penyusunan tugas akhir ini antara lain:
Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap perusahaan dalam melihat hubungan yang terdapat antara biaya, laba dan volume penjualan;
Sebagai bahan masukan bagi manajemen perusahaan dalam merencanakan laba perusahaan;
Agar dapat meningkatkan wawasan penulis dalam menerapkan teori dengan praktek yang ada di dunia usaha khususnya mengenai BEP;
Untuk bahan referensi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Biaya
Aktivitas yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam menciptakan ataumemproduksi suatu barang atau jasa tentu saja memerlukan pengorbanan. Pengorbanan yang timbul untuk mencapai tujuan suatu perusahaan disebut biaya atau cost. Semakin besar jumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan mencapai keuntungan.
Menurut Mulyadi (2000:3), “biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi ataukemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu”.
Selanjutnya menurut Henry (2002:36), “biaya (cost) adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat pada saat ini atau di masa mendatang bagi organisasi”.
Biaya berkaitan dengan segala jenis organisasi bisnis, non bisnis, jasa,eceran dan pabrikasi.Biaya sering diukur dengan satuan-satuan moneter (sebagai contoh, rupiah atau dollar) yang mesti dibayar untuk barang dan jasa. Biaya dikeluarkan untuk menghasilkan manfaat-manfaat di masa depan. Dalam perusahaan berorientasi laba, manfaat-manfaat di masa depan biasanya berarti pendapatan. Pada umumnya, jenis-jenis biaya yang dikeluarkan dan cara biaya tersebut diklasifikasikan tergantung pada jenis organisasinya.

Klasifikasi Biaya
Biaya yang dikeluarkan atau yang terjadi didalam perusahaan harus dicatat dan digolongkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan penentuan harga pokok secara teliti dan tepat, pengendalian biaya dan analisis biaya.Oleh karena itu pencatatan, penggolongan dari biaya-biaya yang timbul sangat penting bagi perusahaan. Menurut Mulyadi, penggolongan biaya diklasifikasikan sebagai berikut:
Penggolongan biaya atas dasar objek pengeluaran.
Jika digolongkan atas dasar objek pengeluaran maka dapat dibagi ke dalam tiga bagian yaitu:
Biaya bahan baku;
Biaya tenaga kerja;
Biaya overhead pabrik;
Penggolongan biaya atas dasar fungsi-fungsi pokok dalam perusahaan.
Biaya dapat digolongkan berdasarkan fungsi-fungsi dimana biaya tersebutterjadi atau berhubungan. Adapun fungsi-fungsi pokok yang terdapat didalam perusahaan manufaktur adalah fungsi-fungsi produksi, administrasi dan umum dan fungsi pemasaran, oleh karena itu biaya-biaya didalam perusahaan manufaktur dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu:
Biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi.
Biaya administrasi dan umum adalah biaya-biaya yang tejadi dalam hubungannya dengan aktifitas produksi maupun pemasaran.
Biaya pemasaran biaya-biaya yang dikeluarkan dalam hubungannya dengan usaha untuk memperoleh pesanan. Untuk memperoleh pesanan, perusahaan mengeluarkan biaya-biaya untuk menarik minat pembeli dengan mengadakan promosi penjualan, advertensi dan lain-lain, sedangkan untuk memenuhi pesanan perusahaan mengeluarkan biaya angkut, biaya asuransi dan biaya-biaya lain agar produk perusahaan sampai ke tangan pembeli.
Penggolongan atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
Biaya ini dapat dihubungkan dengan sesuatu yang dibiayai atau objek pengeluaran. Jika perusahaan mengolah bahan baku menjadi produk jadi, maka sesuatu yang dibiayai berupa produk, sedangkan jika perusahaan menghasilkan jasa, maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa penyerahan jasa tersebut. Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu:
Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah sesuatu yang dibiayai.
Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
Penggolongan biaya sesuai dengan tigkah lakunya terhadap perubahan volume kegiatan.
Untuk keperluan pengendalian biaya dan pengambilan keputusan, biaya dapat digolongkan sesuai dengan tingkah laku dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan yaitu:
Biaya tetap;
Biaya variabel;
Biaya semivariabel;
Penggolongan biaya atas dasar waktu
Perhitungan laba rugi suatu perusahaan dilakukan dengan cara mempertemukan penghasilan yang diperoleh dalm suatu periode akuntansi tertentu, dengan biaya-biaya yang terjadi dalam periode yang sama. Oleh karena itu, agar perhitungan laba atau rugi dan penentuan harga pokok produk dapat dilakukan secara teliti maka biaya-biaya digolongkan dalam hubungan dengan pembebanannyakedalam periode akuntansi tertentu. Atas dasar waktu, biaya dapat dibagi kedalam dua golongan yaitu:
Pengeluaran modal (Capital expenditure) adalah biaya-biaya yang dinikmati lebih dari satu periode akuntansi.
Pengeluaran penghasilan (Revenue expenditure) adalah biaya-biaya yang hanya bermanfaat di dalam periode akuntansi dimana biaya tersebut terjadi.

Perilaku Biaya
Kecenderungan biaya atau reaksi biaya terhadap perubahan volume aktivitas didalam perusahaan ada yang berubah dan ada yang tetap. Sebagai contoh, biaya asuransi, meskipun volume aktivitas perusahaan berubah biaya ini tetap tidak berubah. Sebaliknya, biaya bahan baku akan mengalami perubahan ketika volume aktivitas produksi berubah, reaksi biaya ini disebut perilaku biaya. Perilaku biaya ini terdiri atas tiga jenis, yaitu:
Biaya Tetap (Fixed Cost)
Fixed cost adalah biaya yang secara total tidak mengalami perubahan meskipun volume aktifitas berubah.
Adapun ciri-ciri biaya tetap adalah:
Jumlahnya tetap atau konstan dalam batas-batas volume produksi tertentu;
Biaya per satuan akan mengecil dengan naiknya tingkat produksi;
Alokasi ke bagian-bagian sering dilakukan berdasarkan keputusan pimpinan atau berdasarkan suatu metode alokasi;
Pengawasan atas terjadinya biaya dalam banyak hal terletak pada pimpinan eksekutif, dan bukannya pada pimpinan operasional.




Adapun tipe fixed cost terdiri atas dua yaitu:
Commited Fixed Cost adalah biaya yang tidak dapat dihilangkan sama sekali walaupun operasi perusahaan dihentikan. Contohnya, biaya depresiasi, asuransi property, biaya gaji manajemen dan karyawan. Biaya-biaya ini terkait dengan investai jangka panjang, seperti kepemilikan aktiva tetap.
Discretionary Fixed Cost adalah biaya yang bisa ditiadakan jika manajemen tidak menghendakinya. Contohnya, biaya iklan, biaya public relation, biaya pengembangan manajemen. Biaya ini timbul dari keputusan jangka pendek (annualdecision) manajemen sehingga disebut juga managedfixed cost.
Biaya Variabel (VariableCost)
Biaya variabel adalah biaya yang totalnya berubah secara proporsional terhadap perubahan volume aktifitas perusahaan.
Adapun ciri-ciri dari biaya variabel adalah:
Jumlahnya akan berubah sebanding dengan volume produksi;
Biaya per satuan sekalipun volume produksi mengalami perubahan, pada umumnya konstan;
Dapat dengan mudah dialokasikan pada bagian-bagian operasional;
Pemakaian dan pengawasannya dapat dilimpahkan pada bagian yang bersangkutan.
Ada dua tipe biaya variabel yaitu yang perilakunya bertingkat (proportionately variabel cost) dan perilaku sebagai step variabel cost. Berikut ini grafik yang menggambarkan perilaku tersebut.






Proportionatelly variable costdisebut juga biaya variabel sesungguhnya. Di mana suatu variabel cost dikatakan benar-benar variabel atau proporsional ketika biaya tersebut berubah secara proporsional sesuai dengan perubahan aktivitas. Contoh: Direct material cost.
Step variable cost, suatu variable cost dikatakan step variable cost ketika biaya tersebut berubah secara besar dari aktivitas atau berubah secara bertahap. Contoh: indirect material cost.
Sekecil apapun perubahan volume, costpadaproportionatelly variable cost pun berubah. Namun, costpadastep variable cost tidak mengalami perubahan ketika volume berubah.
Biaya Campuran (Mixed Cost)
Mixed cost adalah biaya yang berubah secara tidak proporsional karena perubahan volume aktifitas. Perubahan yang tidak proporsional ini disebabkan karena didalam mixed cost terdapat unsur variable costdan unsur fixed cost,ini menyebabkan cost ini disebut juga semi variable cost. Contoh mixed cost yaitu, biaya pemeliharaan mesin.
Ada tiga karakteristik penting yang menjadi ciri biaya semivariabel yaitu:
Total biaya semivariabel berfluktuasi dengan aktivitas;
Bagian dari biaya semivariabel yang berubah sesuai dengan aktivitas merupakan biaya variable;
Bagian biaya variabel berubah secara proporsional dengan aktivitas.









Untuk membagi elemen biaya semivariabel ke dalam komponen biaya tetap dan biaya variabel, dapat digunakan tiga metode, yaitu:
Metode Titik Tertinggi-Terendah (The High-Low Method)
Metode analisis biaya semivariabel ini menghendaki pengamatan biaya pada tingkat aktivitas tertinggi maupun aktivitas terendah dalam range yang relevan. Selisih biaya yang diamati pada dua periode (tertinggi dan terendah) dibagi dengan perubahan aktivitas (tertinggi dan terendah) untuk dapat menentukan jumlah biaya variabel yang terlibat.
Tingkat variabel =
Elemen Biaya Tetap = Total Biaya – Elemen Biaya Variabel
Metode Titik Sebar (The Scattergraph Method)
Dalam analisis biaya campuran, manajer berusaha menemukan tingkat rata-rata variabilitas biaya campuran. Cara penyelesaian ini lebih akurat dibanding titik tertinggi-terendah dengan cara memasukkan seluruh titik data biaya yang dapat diamati dalam analisis melalui penggunaan grafik.
Biaya digambarkan pada sumbu vertikal dan volume atau tingkat aktivitas pada sumbu horizontal.
Metode Kuadrat Terkecil (The Least-Square Method)
Metode kuadrat terkecil merupakan pendekatan yang lebih baik dari metode pemisahan biaya tetap dan biaya variabel. Metode ini menempatkan garis dengan menggunakan analisis statistik daripada hanya menempatkan garis regresi melalui data diagram terpencar dengan menggunakan pendekatan visual saja.
Untuk memahami perilaku biaya termasuk variabel atau tetap, maka harus diperhatikan hal-hal berikut ini:
Jangka waktu. Hal ini dikarenakan biaya dapat berubah dari fixed menjadi variabeltergantung pada apakah keputusan tersebut untuk jangka panjang atau jangka pendek;
Sumber daya yang tersedia ketika diperlukan;
Sumber daya yang tersedia sebelumnya;
Pemisahan biaya ini dimaksudkan untuk melihat reaksi berubahnya suatu biaya yang disebabkan oleh perubahan aktivitas agar dapat digunakan dalam pengambilan keputusan;

Analisis Titik Impas (Break Even Point Analysis)
Kegiatan pokok manajemen dalam perencanaan perusahaan adalah pengambilan keputusan dalam pemeliharaan berbagai macam alternatif dan perumusan kebijaksanaan. Ukuran yang sering dipakai untuk menilai sukses tidaknya manajemen suatu perusahaan adalah laba yang didapatkan oleh suatu perusahaan, dan analisa titik impas menyajikan informasi kepada manajemen sehingga memudahkannya dalam menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian laba perusahaan di masa yang akan datang.
Menurut Henry (2002:163), “titik impas (break even point) adalah volume penjualan dimana jumlah pendapatan dan jumlah bebannya sama, tidak terdapat laba maupun rugi bersih”. Sedangkan menurut Bastian dan Nurlela (2007:208), “titik impas adalah suatu keadaan di mana perusahaan yang pendapatan penjualannya sama dengan jumlah total biayanya, atau besarnya kontribusion margin sama dengan total biaya tetap”.
Dari kedua pendapat di atas disimpulkan bahwa BEPadalah titik di mana net income sama dengan nol dalam artian perusahaan tidak memperoleh laba dan juga tidak menderita kerugian.
Analisa titik impas memberikan informasi berapa tingkat penjualan minimum yang harus dicapai suatu perusahaan agar tidak menderita kerugian, dari analisa tersebut juga dapat diketahui sampai seberapa jauh volume penjualan yang direncanakan boleh turun, agar perusahaan tidak menderita kerugian.
Tujuan analisa titik impas adalah untuk mencari tingkat aktifitas dimana pendapatan dari hasil penjualan sama dengan jumlah semua biaya variabel dan biaya tetapnya. Perusahaan tidak mendulang untung ketika hanya mencapai titik impas.Oleh karena itu, hanya penjualan biaya variabel dan biaya tetap saja yang dipakai untuk menghitung titik impas.titik impas normalnya bukan merupakan sasaran kinerja yang diharapkan namun titik impas ini dapat mengindikasikan tingkat penjualan yang diisyaratkan agar perusahaan terhindar dari kerugian.
Asumsi yang Mendasari Analisis BEP
Analisis Cost Volume Profit maupun BEP akan memberikan hasil yang memadai apabila asumsi berikut dipenuhi:
Perilaku penerimaan dan pengeluaran dilukiskan dengan akurat danbersifat linier;
Biaya dapat dipisah menjadi biaya tetap dan biaya variable;
Efisiensi dan produktivitas tidak akan berubah;
Harga jual tidak akan mengalami perubahan;
Biaya-biaya tidak berubah;
Bauran penjualan tetap konstan;
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara persediaan awal dan persediaan akhir;
Manfaat Analisis BEP
Manfaat yang dapat diambil dari analisis BEP menurut Sutrisno (2001:211) adalah sebagai berikut:
Perencanaan Penjualan atau Produksi
Rencana produksi dan penjualan perusahaan bisa direncanakkan dengan menggunakan konsep BEP. Penjualan yang direncanakan perusahaan tentunya disertai dengan target laba yang diinginkan.
Perencanaan Harga Jual Normal
Salah satu keputusan yang diambil oleh manajer keuangan adalah penentuan harga jual. Harga jual merupakan sejumlah uang yang dibayarkan pembeli untuk mendapatkan barang/jasa yang diinginkan. Bagi perusahaan, harga jual harus bisa menutupi semua biaya dan target keuntungan.
Perencanaan Metode Produksi
Analisis ini bisa digunakan untuk menentukan metode produksi guna menentukan alternatif pemilihan metode produksi atau mesin produksi. Apakah akan menggunakan konsep padat karya ataukah padat modal dalam proses produksi.
Titik Tutup Pabrik
Apabila kondisi perusahaan menunjukkan biaya total melebihi pendapatan totalnya, dapat berarti perusahaan beroperasi di bawah BEP, Dalam hal ini perusahaan dapat menutup atau tetap menjalankan operasinya. Untuk itu manajemen dapat menganalisanya dengan menggunakan analisis BEP.
Contribution Margin dalam Analisis BEP
Contribution marginmerupakan selisih antara penjualan dengan biaya variabel pada tingkat kegiatan tertentu. Dalam analisis BEP, contribution marginsangat diperlukan sekali karena memudahkan pengambilan keputusan dengan cepat dan sebagai titik awal dari keputusan-keputusan berikutnya.
Komputasi Titik Impas
Menurut Henry (2002:164),BEP dapat ditentukan dengan beberapa cara, yaitu:
Metode Persamaan (Equation Method)
Ancangan matematis dengan memakai metode persamaan (equation method) adalah berdasarkan pada laporan laba rugi dengan format margin kontrubusi seperti berikut:
Penjualan – Jumlah biaya = Laba Bersih
Atau,
Penjualan – Biaya variabel – Biaya tetap = Laba Bersih
Atau,
Penjualan = Biaya variabel + Biaya tetap + Laba Bersih
Pada titik impas, laba bersihnya tentu saja nol. Oleh karena itu, titik impas dapat dihitung dengan mencari titik dimana penjualannya sama dengan jumlah biaya variabel ditambah biaya tetapnya.
Metode Kontribusi Unit (Unit Contribution Method)
Metode ini merupakan variasi dari metode persamaan. Ini didasarkan pada pendapat yang menganggap bahwa setiap unit yang terjual memberikan jumlah margin kontribusi tertentu yang akan menutupi biaya tetap. Untuk mencari BEP, jumlah biaya tetap harus dibagi margin kontribusi yang dihasilkan oleh setiap unit. Metode ini menggunakan rumus:
BEP (dalam unit)= (Biaya Tetap)/(Margin Kontribusi Per Unit)
BEP (dalam rupiah)= (Biaya tetap)/(Rasio Margin Kontribusi)
Ancangan Grafis (Graphic Approach)
Grafik kerap dibuat agar para manajer dapat menvisualisasikan titik impas dan profitabilitas dari bermacam-macam kombinasi pendapatan dan biaya dalam kisaran volume penjualan tertentu.Ancangan grafis ini terutama berfaedah bagi para manajer dalam mengevaluasi dampak perubahan tingkat volume di masa silam atau volume penjualan yang diproyeksikan pada masa yang akan datang. Dengan memakai grafis, manajer dapat menghindari perhitungan-perhitungan matematis yang setiap kali diperlukan pada waktu tingkat penjualan yang berbeda tengah dipertimbangkan.
Menurut Henry (2002:166) menguraikan tahap pembuatan grafik BEP sebagai berikut:
Membuat sumbu vertikal untuk jumlah rupiah penjualan dan biaya perusahaan, sumbu horizontal menunjukkan volume penjualan yang dilakukan perusahaan.
Garis jumlah penjualan dipatok mulai dari nol pada sisi kiri grafik. Titik kedua ditentukan dengan mengalikan setiap unit penjualan pada aksis horizontal dengan harga jual per unit.
Menarik garis biaya tetap secara horizontal mulai dari sumbu vertikal.
Garis jumlah biaya ditarik mulai dari titik biaya tetap tadi pada sumbu vertikal. Titik kedua ditentukan dengan mengalikan setiap unit dengan biaya variabel lalu ditambahkan dengan biaya tetap.
Perpotongan antara garis pendapatan dan garis jumlah biaya merupakan titik BEP.









BAB III
METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu Penelitian
Penelitian ini berlangsung pada bulan Desember 2008 sampai Januari 2009.
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT XYZ yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan Km.9 Makassar.

B.Tipe Penelitian
Wawancara
Penulis melakukan tanya jawab secara langsung dengan pihak perusahaan yang berkaitan dengan objek penelitian ini.
Dokumentasi
Dokumentasi merupakan dokumen-dokumen berupa data biaya dan data penjualan yang terjadi dalam perusahaan.

C. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil observasi dan wawancara yang diajukan kepada pihak perusahaan PT XYZ.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur-literatur lain sebagai referensi dalam mendukung penulisan ini.

Metode Analisis
Adapun sebagai dasar dalam menghitung BEP, penelitian ini menggunakan analisis BEP yang sebelumnya didahului dengan mengadakan pengelompokan biaya yang terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel serta penghitungan jumlah penjualan yaitu:
Menetapkan tingkat BEPdengan contribution margin method.
Analisis Kontribusi Unit
"BEP =" (Biaya Tetap)/MarginKontribusiPerUnit
Analisis Kontribusi Total
BEP=(Biaya Tetap)/(Rasio Margin Kontribusi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar