Minggu, 27 Maret 2011

PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI SPRINGBED DENGAN MENGGUNAKAN METODE HARGA POKOK PESANAN PADA PT XYZ

DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. 2000. Intermediate Accounting (Edisi ke-7). Yogyakarta: BPFE

Hansen, Don R dan Maryanne M Moven. 1997. Akuntansi Manajemen. Edisi 4. Jakarta: Erlangga.

Hansen & Mowen. 2000. Manajemen Biaya, Akuntansi dan Pengendalian. Jakarta: Salemba Empat.

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090301021941AAbFxde) diakses 10 November 2009

Mulyadi. 2000. Akuntansi Biaya. Yogyakarta: Aditya Media.

2005. Akuntansi Biaya. Edisi 5. Yogyakarta: STIE YKPN.

Mursyidi. 2008. Akuntansi Biaya. Bandung: Refika Aditama.

Nur Zahirah. 2005 Evaluasi Harga Pokok Produksi Pada PT ABC. Tugas Akhir. Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Simamora Henry. 1999. Akuntansi Manajemen, Jakarta: Salemba Empat.

Soemarso. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Aditya Media.

Supriyono. 2002. Manajemen Biaya: Suatu Reformasi Pengelolaan Bisnis. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

2000. Akuntansi Biaya: Pengumpulan Biaya dan Penetuan Harga Pokok. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

1999. Akuntansi Biaya Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok. Yogyakarta: BPFE.

Sutrisno. 2001. Akuntansi Biaya Untuk Manajemen (Edisi ke-2). Yogyakarta: Ekonisia.

BAB I
PENDAHULUAN
A . Latar Belakang Masalah
Akibat krisis keuangan yang melanda Indonesia pada akhir tahun 2008, beberapa perusahaan mengalami kepailitan, baik itu industri manufaktur, dagang, maupun jasa. Bagi perusahaan yang mampu bertahan, tentu harus bersaing dan menyesuaikan kembali harga jual produknya dengan kondisi sekarang.
Keadaan yang semakin menyulitkan dunia bisnis akibat dari krisis moneter tersebut yaitu kenaikan harga bahan bakar minyak yang cukup tinggi, yang selanjutnya berdampak sangat besar bagi perekonomian di Indonesia, khususnya bagi perusahaan yang menggunakan bahan bakar minyak dalam kegiatan produksinya.
Kenaikan harga bahan bakar minyak tersebut mendorong peningkatan harga barang dan jasa seperti harga bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya telepon, biaya listrik dan lain-lain. Kenaikan harga-harga tersebut, membuat perusahaan harus semakin selektif dalam menghasilkan produknya agar dapat bersaing dengan produk lain dalam pangsa pasar yang ada.
Perkembangan teknologi produksi yang semakin pesat mendorong perusahaan untuk menggantikan tenaga kerja manusia dengan mesin dalam proses produksinya, sehingga biaya tenaga kerja menurun dan biaya overhead pabrik cenderung meningkat. Sejalan dengan peningkatan penggunaan mesin tersebut, maka akan berdampak terhadap komposisi biaya produksi, khususnya biaya konversi akibat penurunan biaya tenaga kerja dan peningkatan biaya overhead tersebut.
Pembebanan biaya bahan langsung dan upah langsung pada produk yang dihasilkan dapat dilakukan dengan tepat dan mudah karena biaya-biaya tersebut dapat dialokasikan secara langsung ke produk jadi. Akan tetapi, pembebanan biaya overhead (biaya pabrikasi) pada produk yang dihasilkan perlu dilakukan dengan cermat, karena biaya ini tidak dapat diidentifikasi secara langsung pada produk jadi sehingga membutuhkan metode alokasi tertentu.
Pada perusahaan manufaktur, biaya operasi terdiri dari biaya produksi dan biaya komersial. Biaya produksi meliputi biaya bahan langsung, upah langsung dan biaya pabrikasi tak langsung (overhead pabrik) dan merupakan komponen yang paling penting karena merupakan dasar untuk menetapkan harga pokok produksi. Sedangkan biaya komersial meliputi biaya administrasi dan umum, biaya pemasaran dan biaya lain selain dari biaya produksi.
Dalam proses penentuan harga pokok produksi, pihak manajemen perusahaan harus mampu mengklasifikasikan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi suatu produk agar harga pokok dari produk yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut. Sebab jika terjadi kesalahan dalam penetapan harga pokok produksi, maka hal ini akan berpengaruh pada penetapan harga jual yang pada akhirnya akan berakibat pada tingkat perolehan laba.
Harga pokok merupakan akumulasi dari biaya-biaya yang dibebankan kepada produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Perhitungan harga pokok produksi dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode harga pokok pesanan (job order costing) dan metode harga pokok proses (process costing). Jika perusahaan berproduksi berdasarkan pesanan maka metode yang digunakan adalah metode harga pokok pesanan sedangkan jika perusahaan berproduksi secara proses/massal maka metode yang digunakan adalah metode harga pokok proses.
PT XYZ merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang produksi dan penjualan springbed. Perusahaan memproduksi springbed berdasarkan pesanan yang masuk, namun perusahaan belum mampu melakukan pengklasifikasian biaya secara tepat, sehingga sering terjadi kesalahan dalam pengalokasian biaya. Terdapat biaya yang merupakan biaya penjualan tetapi oleh perusahaan digolongkan sebagai biaya produksi, dan perusahaan tidak melakukan pemisahan terhadap biaya overhead pabrik, bahkan perusahaan tidak memperhitungkan biaya-biaya yang seharusnya menjadi unsur pembentuk harga pokok produksi springbed, antara lain biaya penyusutan gedung pabrik, penyusutan mesin, penyusutan kendaraan, biaya pemeliharaan mesin, dan biaya pemeliharaan kendaraan.
Kesalahan ini akan berakibat terhadap total harga pokok produksi yang melekat pada satu unit springbed. Sehingga akan berpengaruh terhadap harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan. Jadi besarnya harga pokok yang melekat untuk produksi 1 (satu) unit springbed tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Berikut disajikan penggunaan biaya overhead pabrik pada PT. XYZ, dimana selama bulan Agustus perusahaan hanya memasukkan biaya tenaga kerja satpam, lem, BBM/Listrik, air dan telepon sebagai biaya overhead pabrik.
Tabel 1.1
Penggunaan Biaya Overhead Pabrik PT XYZ
Biaya overhead pabrik Jumlah (Rp)
Biaya tenaga kerja satpam 5.430.000
Lem 4.000.000
BBM/Solar 2.700.000
Listrik 6.000.000
Air 200.000
Telepon 3.000.000
Total BOP 21.330.000
Sumber: PT XYZ, Agustus 2009
Dari tabel diatas perusahaan tidak memasukkan biaya penyusutan gedung pabrik, penyusutan mesin, penyusutan kendaraan, biaya pemeliharaan mesin, dan biaya pemeliharaan kendaraan kedalam unsur biaya overhead pabrik, namun seharusnya seluruh biaya tersebut merupakan unsur pembentuk harga pokok produksi.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis terdorong untuk memilih judul “Perhitungan Harga Pokok Produksi Springbed dengan Menggunakan Metode Harga Pokok Pesanan Pada PT XYZ”.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang permasalahan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah berapa jumlah harga pokok produksi springbed jika menggunakan metode harga pokok pesanan?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa jumlah harga pokok produksi perusahaan jika menggunakan metode harga pokok pesanan.
Batasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis menghitung harga pokok produksi Springbed untuk jenis supreme bulan Agustus 2009, karena pada bulan tersebut terjadi peningkatan produksi menjelang lebaran, dan jenis produk supreme merupakan produk yang paling laku dipasaran.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Bagi perusahaan
Hasil penelitian diharapkan dapat berguna sebagai suatu bahan masukan bagi perusahaan demi perkembangan perusahaan.
2. Bagi penulis
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang kinerja dari sistem harga pokok pesanan dan mengetahui dampak dari penerapan harga pokok pesanan pada perusahaan, dan tentunya sebagai aplikasi dari ilmu yang telah didapatkan selama perkuliahan.
3. Bagi pembaca
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah wawasan dan sebagai sumber bacaan mengenai perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan harga pokok pesanan.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Biaya
Menurut Mursyidi (2008:13) “biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi baik yang berwujud maupun tidak berwujud yang dapat diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu”.
Mulyadi (2005:8) menyatakan bahwa “biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu”.
Supriyono (2002:16) “biaya (expenses) adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan (revenues) dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan”. Sedangkan menurut Mulyadi (2000:8); “biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dengan satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi, untuk obyek atau tujuan tertentu”.
Simamora (1999:36) mendefinisikan biaya sebagai “biaya (cost) kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat pada saat ini atau di masa mendatang bagi organisasi”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa biaya adalah pengorbanan yang dikeluarkan terhadap suatu barang atau jasa yang dapat diukur dengan satuan uang untuk memperoleh manfaat dari suatu barang.
B. Klasifikasi Biaya
Untuk menentukan harga pokok produksi secara teliti, maka biaya perlu diklasifikasikan/digolongkan sehingga dapat dipisahkan antara biaya produksi dan biaya bukan produksi.
Penggolongan adalah proses pengelompokan secara sistematis atas keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi yang lebih berarti.
Akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang akan digunakan untuk berbagai tujuan, dalam menggolongkan biaya harus disesuaikan dengan tujuan dari informasi biaya yang akan disajikan. Menurut Mulyadi (2005:13) biaya digolongkan ke dalam beberapa bagian yaitu:
1. Penggolongan biaya menurut obyek pengeluaran
Dalam penggolongan ini, nama obyek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya nama obyek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut biaya bahan bakar.
2. Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan.
Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum.
a. Biaya produksi yaitu: biaya-biaya yang terjadi untuk mengelola bahan baku menjadi produk jadi siap untuk dijual, yang termasuk biaya produksi adalah;
1) Biaya bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bahan baku yang akan diolah menjadi bagian produk selesai dan pemakaiannya dapat diidentifikasi atau diikuti jejaknya.
2) Biaya tenaga kerja langsung, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membayar gaji atau upah kepada yang menangani proses produksi secara langsung, yang manfaatnya dapat diidentifikasi jejaknya pada produk tertentu.
3) Biaya overhead pabrik adalah biaya yang dikeluarkan selain dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, namun masih berada dalam ruang lingkup produksi. Contohnya biaya gaji karyawan, dan lain-lain.
b. Biaya pemasaran, yaitu biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pemasaran produk. Biaya ini meliputi: fungsi penjualan, fungsi penggudangan produk selesai, fungsi pengepakan dan fungsi pengiriman, fungsi advertensi, fungsi pemberian kredit dan pengumpulan piutang serta fungsi pembuatan faktur atau administrasi penjualan;
c. Biaya adaministrasi dan umum, yaitu biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk. Contoh biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi dan lain-lain.
3. Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
Sesuatu yang dibiaya dapat berupa produk atau departemen. Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan:
a. Biaya langsung (direct cost), adalah biaya yang terjadi yang penyebab satu-satunya adalah adanya sesuatu yang dibiayai. Contoh biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung;
b. Biaya tidak langsung (inderect cost), adalah biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Contoh biaya overhead pabrik.
4. Penggolongan biaya menurut perilaku dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.
a. Biaya variabel, yaitu biaya yang jumlah total berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya bahan baku;
b. Biaya semivariabel, yaitu biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel;
c. Biaya semifixed, yaitu biaya tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume tertentu;
d. Biaya tetap, yaitu biaya yang jumlahnya totalnya tetap dalam kisaran volume tertentu.
5. Penggolongan biaya sesuai dengan periode akuntansi dimana biaya akan dibebankan.
a. Pengeluaran modal (capital expenditure), adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun;
b. Pengeluaran penghasilan (revenue expenditure), adalah biaya yang akan dikeluarkan dengan masa manfaat kurang dari satu tahun atau berjangka pendek.
6. Penggolongan biaya untuk tujuan pengendalian biaya.
a. Biaya terkendali (controllable cost), merupakan biaya yang dapat dipengaruhi secara langsung oleh seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu;
b. Biaya tidak terkendali (uncontrollable cost), adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan berdasarkan wewenang yang dimiliki atau dalam jangka waktu tertentu.
7. Penggolongan biaya sesuai dengan tujuan pengambilan keputusan. Untuk pengambilan keputusan, biaya dikelompokkan sebagai berikut:
a. Biaya relevan (relevant cost), adalah biaya yang akan mempengaruhi keputusan;
b. Biaya tidak relevan (irrelevant cost), adalah biaya yang tidak mempengaruhi pengambilan keputusan.
Sedangkan menurut Supriyono (2002:18) biaya digolongkan kedalam beberapa bagian yaitu:
a. Penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok dari kegiatan/aktivitas perusahaan (cost classified according to the function of business activity) yang dikelompokkan menjadi :
1) Biaya produksi, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Biaya produksi dapat dikelompokkan ke dalam: (1) biaya bahan baku adalah harga perolehan dari bahan baku yang dipakai di dalam pengolahan produk. (2) biaya tenaga kerja langsung adalah semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada semua karyawan pabrik yang manfaatnya dapat diidentifikasi atau diikuti jejaknya pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan. (3) biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
2) Biaya pemasaran, yaitu biaya dalam rangka penjualan produk selesai sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas.
3) Biaya administrasi dan umum, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi administrasi dan umum.
4) Biaya keuangan, yaitu semua biaya yang terjadi dalam melaksanakan fungsi keuangan.
b. Penggolongan biaya sesuai dengan periode akuntansi dimana biaya akan dibebankan, penggolongannya adalah sebagai berikut:
1) Pengeluaran modal (capital expenditures), pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada beberapa periode akuntansi atau pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada periode akuntansi yang akan datang.
2) Pengeluaran penghasilan (revenues expenditures), pengeluaran yang akan memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran terjadi.
c. Penggolongan biaya sesuai dengan tendensi perubahan terhadap aktivitas atau kegiatan atau volume yang dapat dikelompokkan menjadi:
1) Biaya tetap memiliki karakteristik sebagai berikut: biaya yang jumlah totalnya tetap (konstan) tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas dan sampai dengan tingkat tertentu. Biaya tetap satuan akan berubah dan berbanding terbalik dengan perubahan volume kegiatan. Semakin tinggi volume kegiatan semakin rendah biaya satuan. Sebaliknya, semakin rendah volume maka semakin tinggi biaya satuan.
2) Biaya variabel, memiliki karakteristik sebagai berikut: biaya yang jumlah totalnya akan berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Semakin besar volume kegiatan semakin tinggi jumlah total biaya variabel. Satuan biaya variabel tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan menjadi biaya satuan konstan.
3) Biaya semi variabel, memiliki karakteristik sebagai berikut: biaya yang jumlah totalnya akan berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat perubahannya tidak sebanding. Pada biaya semi variabel, biaya satuan akan berubah terbalik dihubungkan dengan perubahan volume kegiatan tetapi sifatnya tidak sebanding.
d. Penggolongan biaya sesuai dengan objek atau pusat biaya yang dibiayai, dapat dibagi menjadi:
1) Biaya langsung (direct cost), adalah biaya yang terjadinya atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada obyek atau pusat biaya tertentu.
2) Biaya tidak langsung (indirect cost), adalah biaya yang terjadinya atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan pada obyek atau pusat biaya tertentu, atau biaya yang manfaatnya dinikmati oleh beberapa obyek atau pusat biaya.
e. Penggolongan biaya untuk tujuan pengendalian biaya, dapat dikelompokkan menjadi:
1) Biaya terkendalikan (controllable cost), adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu.
2) Biaya tidak terkendalikan (uncontrollable cost), adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan/pejabat tertentu berdasarkan wewenang yang dia miliki atau tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pejabat dalam jangka waktu tertentu.
f. Penggolongan biaya sesuai dengan tujuan pengambilan keputusan, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1) Biaya relevan (relevant cost), adalah biaya yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya tersebut harus diperhitungkan di dalam pengambialan keputusan.
2) Biaya tidak relevan (irrelevant cost), adalah biaya yang tidak dipengaruhi oleh pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya ini tidak perlu diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan.
C. Pengertian Harga Pokok Produksi
Harga pokok produksi menunjukkan biaya produksi selama proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.
Menurut Soemarso (2004:287) “harga pokok produksi (cost of goods manufactured) adalah biaya pabrik ditambah dengan persediaan dalam proses awal dikurangi dengan persediaan dalam proses akhir. Biaya ini merupakan biaya produksi dari barang yang telah diselesaikan selama satu periode”. Definisi lain dikemukakan oleh Zaki Baridwan (2000:156) “Harga Pokok (Cost) yang dirumuskan sebagai harga yang dibayar atau dipertimbangkan untuk memperoleh suatu aktiva. Dalam hubungannya dengan persediaan harga pokok adalah jumlah semua pengeluaran-pengeluaran langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan perolehan penyiapan dan penempatan persediaan tersebut agar dapat dijual. Perumusan harga pokok seperti di atas sulit dijalankan dalam praktek sehingga biasa terjadi penyimpangan-penyimpangan”.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa harga pokok produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan suatu produk atau barang jadi. Jadi harga pokok produksi meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik dalam jangka waktu tetentu ditambah barang dalam proses awal periode dikurangi barang dalam proses akhir periode.
D. Unsur-Unsur Pembentuk Harga Pokok Produksi
Biaya-biaya produksi yang membentuk harga pokok produksi menurut Hansen/Mowen (2000:45) dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Biaya bahan baku, adalah biaya yang berhubungan dengan bahan baku pada suatu produk. Dalam metode harga pokok pesanan, biaya bahan penolong tidak termasuk di dalamnya.
2. Biaya tenaga kerja, adalah biaya tenaga kerja utama dalam proses produksi. Dalam metode harga pokok pesanan yang tergolong dalam biaya ini adalah biaya tenaga kerja langsung.
3. Biaya overhead pabrik, adalah biaya-biaya yang terjadi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja. Komponen biaya ini adalah biaya bahan penolong, biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya sebagai akibat berlalunya waktu (biaya penyusutan), dan biaya yang memerlukan pengeluaran uang tunai, misalnya biaya listrik, air, telepon, dan biaya sewa gudang.
Bahan baku adalah material atau bahan dasar yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk tertentu setelah melewati suatu proses tertentu (http://id.answers.yahoo.com).
Menurut Mulyadi (2000:208) ”bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian dari produk jadi tetapi nilainya relatif kecil dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut”.

E. Metode Perhitungan Harga Pokok Produksi
Pada perusahaan manufaktur atau pengolahan bahan baku menjadi produk jadi tidak akan terlepas dari masalah pengumpulan harga pokok produksi. Tujuan pengolahan produk pada perusahaan manufaktur tersebut bermacam-macam, ada yang bertujuan untuk memenuhi pesanan dari langganan, ada pula yang bertujuan untuk mengisi persediaan yang nantinya akan dijual ke pasar.
Supriyono (1999:36) menyatakan bahwa “jika pola pengumpulan harga pokok dapat dikelompokkan menjadi dua metode, yaitu: metode harga pokok pesanan dan metode harga pokok proses”.
F. Definisi Metode Harga Pokok Pesanan
Untuk unggul di dalam persaingan jangka panjang, perusahaan harus mampu menghasilkan laba yang maksimal. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba ditentukan oleh tiga faktor yaitu, fleksibilitas,mutu, dan biaya. Dengan demikian, sistem informasi harus dirancang agar mampu menyediakan informasi bagi manajemen untuk merencanakan dan mengendalikan tiga faktor yang menentukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba tersebut.
Menurut Supriyono (1999:36) metode harga pokok pesanan adalah “metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak atau jasa secara terpisah, dan setiap pesanan atau kontrak dapat dipisahkan identitasnya”.
Pendekatan baru dalam akuntansi biaya untuk memenuhi tujuan tersebut di atas disebut “job order costing”, sistem ini merupakan sistem informasi tentang pekerjaan (kegiatan) yang mengkonsumsi sumber daya dan menghasilkan nilai bagi konsumen.
Sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan adalah biaya produksi diakumulasikan untuk setiap pesanan yang terpisah, suatu pesanan adalah output yang diidentifikasikan untuk memenuhi pesanan pelanggan tertentu untuk mengisi kembali suatu item dari pesediaan .
Untuk menghitung biaya berdasarkan pesanan secara efektif, pesanan harus dapat diidentifikasikan secara terpisah. Agar rincian dari perhitungan biaya berdasarkan pesanan sesuai dengan usaha yang diperlukan, harus ada perbedaan penting dalam biaya per unit suatu pesanan dengan pesanan lain.
Perhitungan biaya berdasarkan pesanan mengakumulasikan biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan overhead yang dibebankan ke setiap pesanan. Sebagai hasilnya, perhitungan biaya berdasarkan pesanan dapat dipandang dalam tiga bagian yang saling berhubungan. Akuntansi bahan baku memelihara catatan persediaan bahan baku, membebankan bahan baku langsung ke pesanan, dan membebankan bahan baku tidak langsung keoverhead. Akuntansi tenaga kerja memelihara akun-akun yang berhubungan dengan beban gaji, membebankan tenaga kerja langsung ke pesanan, dan membebankan tenaga kerja tidak langsung ke overhead. Akuntansi overhead mengakumulasi biaya overhead, memelihara catatan terinci atas overhead, dan membebankan sebagian dari overhead ke setiap pesanan.
G. Karakteristik Metode Harga Pokok Pesanan
Menurut Sutrisno (2001:17) karakteristik harga pokok pesanan adalah:
1. Tujuan perusahaan berproduksi adalah untuk memenuhi pesanan dari pelanggan dengan spesifikasi sesuai yang diminta oleh pelanggan.
2. Dasar kegiatannya adalah pelanggan, bila tidak ada pesanan maka perusahaan tidak ada kegiatan.
3. Sifat kegiatannya adalah terputus-putus atau intermitten, bergantung pada pesanan yang diterima.
4. Jenis barang yang dihasilkan adalah heterogen artinya bermacam-macam jenis dan bentuknya.
5. Pengumpulan biaya dilakukan setiap satu pesanan selesai, tidak harus menunggu sampai akhir periode.
6. Perhitungan harga pokok untuk masing-masing pesanan, sehingga untuk menghitung besarnya harga pokok perunit adalah:

H. Prosedur Akuntansi Biaya pada Metode Harga Pokok Pesanan
Prosedur akuntansi biaya pada metode harga pokok pesanan meliputi organisasi formulir, catatan-catatan dan laporan-laporan yang terkoordinasi dalam rangka melaksanakan kegiatan untuk melayani pesanan dan menyajikan informasi biaya bagi manajemen. Prosedur akuntansi biaya dapat dikelompokkan sebagai berikut
1. Prosedur akuntansi biaya bahan dan suplies
Prosedur akuntansi biaya bahan dan suplies meliputi prosedur pembelian sampai dengan pemakaian bahan dan suplies di dalam pabrik.
2. Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja
Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja meliputi prosedur terjadinya gaji dan upah, pembayaran dan distribusi gaji dan upah untuk semua karyawan perusahaan baik produksi maupun non produksi, baik karyawan perusahaan baik produksi maupun non produksi, baik karyawan yang gajinya tetap perbulan maupun yang ditentukan oleh jam kerjanya.
3. Prosedur akuntansi biaya overhead pabrik
Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling kompleks, untuk keadilan dan ketelitian pembebanan harus digunakan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka. Alasan pemakaian tarif pembebanan adalah sebagai berikut:
a. Adanya biaya overhead yang timbul setelah aktivitas berlalu;
b. Adanya biaya yang baru dapat dihitung pada akhir periode;
c. Adanya biaya yang terjadi hanya pada interval waktu tertentu.
Dari uraian tersebut jelas bahwa biaya overhead yang sesungguhnya baru dapat dihitung pada akhir periode, padahal harga pokok pesanan harus dihitung saat pesanan selesai tanpa menunggu akhir periode, jadi untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada pesanan harus digunakan tarif yang ditentukan di muka. Rumus perhitungan tarif biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:
T = B / K
T = Tarif biaya overhead pabrik
B = Budget biaya overhead pabrik periode tertentu
K = Budget kapasitas pembebanan untuk periode yang bersangkutan.
4. Prosedur akuntansi produk selesai dan produk dalam proses akhir periode
Pada metode harga pokok pesanan setiap ada pesanan yang selesai dipindahkan dari Departemen Produksi ke seksi Gudang Produk Selesai dan harus dihitung harga pokoknya, jumlah harga pokok pesanan yang selesai dapat dihitung dengan merekam kartu harga pokok pesanan dan selanjutnya memindahkan kartu tersebut dari fungsinya sebagai rekening pembantu Barang Dalam Proses ke fungsi yang baru sebagai pembantu rekening persediaan produk selesai.
5. Prosedur akuntansi penjualan atau penyerahan produk kepada pemesan.
Dari seksi gudang produk selesai pesanan dikirimkan kepada pemesan.
I. Manfaat Penentuan Harga Pokok Produksi dengan menggunakan metode Harga Pokok Pesanan
1. Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan;
2. Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan pesanan;
3. Memantau realisasi biaya produksi;
4. Menghitung laba atau rugi tiap pesanan;





















BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Waktu penelitian
Penelitian ini berlansung mulai dari Mei 2009 sampai dengan Nopember 2009.
2. Tempat Penelitian
Dalam melakukan penelitian, penulis memilih PT XYZ yang merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang memproduksi dan menjual Springbed dan berlokasi di Jln. Kima 10 Kav. A1 Kawasan Industri Makassar.
B. Tipe Penelitian
Adapun tipe Penelitian yang digunakan oleh penulis adalah:
1. Penelitian Lapangan (Field Research), yaitu penulis melakukan observasi langsung ke lapangan dengan cara melakukan wawancara dengan pimpinan perusahaan dan beberapa karyawan yang berkaitan dengan materi penulisan pengumpulan data.
2. Penelitian sekunder (Library Research), yaitu metode pengumpulan data dengan mempelajari dan membantu literatur-literatur yang menyangkut teori-¬¬¬teori yang berhubungan dengan manajemen pengendalian bahan baku.

C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian di lapangan yaitu:
1. Wawancara yaitu mengajukan pertanyaan kepada beberapa pihak dalam perusahaan yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh perusahaan.
2. Analisis dokumen yaitu menganalisis laporan-laporan yang berasal dari perusahaan berkaitan dengan masalah yang dihadapi perusahaan.
D. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan penulis adalah:
a. Data kuantitatif, data yang diperoleh dari perusahaan berupa laporan harga pokok produksi, dan rincian biaya overhead pabrik.
b. Data kualitatif adalah data yang diperoleh dari perusahaan berupa gambaran umum perusahaan, sejarah singkat perusahaan, aliran proses produksi dan informasi-informasi yang menyangkut kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak perusahaan, baik yang berupa dokumen maupun melalui hasil wawancara.
c. Data Primer, data yang diperoleh dari hasil pengamatan langsung terhadap objek penelitian baik melalui wawancara maupun melalui dokumentasi berbagai sumber dokumen yang dibutuhkan dalam penelitian.
d. Data Sekunder, data yang diperoleh dengan mempelajari berbagai dokumen dan literatur yang relevan yang dibahas dalam penelitian.
2. Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Responden, data yang bersumber dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan seperti karyawan.
b. Dokumen, data yang bersumber dari perusahaan yang terkait dengan masalah yang penulis teliti.

E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah metode deskriptif kuantitatif yaitu dengan mengolah data berupa angka-angka untuk memperoleh harga pokok produksi yang tepat. Sehingga nantinya dapat melakukan perhitungan harga pokok produksi terhadap suatu produk.









Tabel 3.1
Laporan Harga Pokok Produksi

Laporan Harga Pokok Produksi

Biaya Bahan Baku Langsung
Persediaan awal bahan baku xxx
Pembelian bahan baku xxx
Jumlah bahan baku yang tersedia xxx
Persediaan akhir bahan baku xxx
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi xxx
Biaya tenaga kerja langsung xxx
Biaya overhead pabrik:
Upah tenaga kerja tidak langsung xxx
Biaya peny. Aktiva xxx
Bahan baku penolong xxx
BOP lainnya xxx
Total BOP yang dibebankan xxx
Total biaya produksi yang dikeluarkan xxx
Persediaan awal barang dalam proses xxx
Persediaan akhir barang dalam proses xxx
Harga Pokok Produksi xxx
Sumber: Hansen, Don R dan Mowen M. 1997, Hal. 162



Tabel 3.2
Kartu Harga Pokok Pesanan

Kartu Harga Pokok Pesanan

Nama : No. Pesanan :
Alamat : Tgl. Pesanan :
Spesifikasi Pesanan : Tgl. Pengiriman :
Jumlah :
Biaya Bahan Baku

Tgl Jenis Unit Harga Pokok Perunit Total (Rp)


Jumlah Xxx

Biaya Tenaga Kerja Langsung

Tgl Nama Produk Unit Tarif Per Produk Total (Rp)


Jumlah Xxx

Biaya Overhead Pabrik

Tgl Jenis Biaya Jumlah Tarif Total (Rp)


Jumlah Xxx
Rekapitulasi Biaya:
Jenis Biaya Total (Rp)
Biaya Bahan Baku Xxx
Biaya Tenaga Kerja Langsung Xxx
Biaya Overhead Pabrik Xxx
Jumlah Xxx
Sumber: Drs. R.A. Supriyono, S. U., Akt. 2000. Hal 91

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar